Toilet Pintar Berbasis AI Bisa Pantau Feses dan Urine Saat Digunakan

Teknologi40 Views

Toilet Pintar Berbasis AI Bisa Pantau Feses dan Urine Saat Digunakan Aktivitas di kamar mandi kini mulai masuk ke wilayah teknologi kesehatan digital. Sejumlah perusahaan mengembangkan perangkat yang memungkinkan pengguna buang air seperti biasa sambil mengumpulkan informasi mengenai kondisi feses, urine, hidrasi, hingga kebiasaan pergi ke toilet. Kecerdasan buatan kemudian digunakan untuk mengubah informasi tersebut menjadi catatan yang dapat dilihat melalui ponsel.

Salah satu perangkat yang mendapat perhatian sepanjang 2026 adalah Throne One buatan Throne Science. Bentuknya bukan toilet lengkap yang harus menggantikan kloset lama. Perangkat berupa sensor kecil yang dipasang pada bibir toilet sehingga kloset biasa dapat memiliki fungsi pemantauan kesehatan. Throne One mulai dikirim kepada konsumen pada Maret 2026 dan menggunakan computer vision serta AI untuk memantau kondisi feses, hidrasi, aliran urine, dan pola penggunaan toilet.

Perangkat tersebut menjadi bagian dari tren yang semakin ramai. TOTO sudah menjual toilet dengan Stool Scan di Jepang, Kohler mempunyai Dekoda, sedangkan Withings menawarkan U Scan untuk analisis urine. Toilet pun mulai bergerak dari perangkat sanitasi menjadi salah satu tempat pengumpulan informasi tubuh.

Kamera Throne One Mengarah Langsung ke Dalam Kloset

Cara kerja Throne One cukup sederhana dari sisi pengguna. Sensor dipasang pada bibir kloset tanpa memerlukan perubahan instalasi air atau pekerjaan pemasangan yang rumit. Setelah itu pengguna tetap menggunakan toilet seperti biasanya.

Sensor optik selalu diarahkan ke bawah menuju bagian dalam kloset. Throne menyatakan kameranya tidak mengarah kepada tubuh atau ruangan kamar mandi. Data yang dikumpulkan kemudian diproses untuk melihat pola yang berkaitan dengan feses dan urine.

Perangkat menggunakan serangkaian model computer vision untuk mengenali karakter visual dari hasil buang air. Informasi tersebut kemudian diproses oleh lapisan AI berikutnya agar dapat ditampilkan dalam bentuk skor, tren, serta informasi yang lebih mudah dipahami melalui aplikasi.

Throne menyebut perangkatnya dapat bekerja tanpa pengguna harus memasukkan catatan secara manual setiap selesai pergi ke toilet.

Konsep tersebut cukup berbeda dari pencatatan kesehatan pencernaan konvensional yang biasanya meminta seseorang mengingat frekuensi buang air atau mencatat bentuk feses setiap hari.

“Menurut penulis, kekuatan utama perangkat seperti Throne bukan terletak pada kecanggihan kameranya saja, tetapi pada kemampuannya mengumpulkan catatan secara konsisten ketika pengguna menjalankan kebiasaan yang memang dilakukan setiap hari.”

Bentuk dan Frekuensi Feses Bisa Dipantau

Salah satu informasi utama yang dibaca Throne adalah bentuk serta frekuensi feses.

Perusahaan menggunakan pendekatan Bristol Stool Scale untuk mengelompokkan bentuk feses. Skala tersebut telah digunakan secara klinis untuk membantu menggambarkan konsistensi feses dan dapat memberikan informasi mengenai kecepatan perjalanan isi saluran pencernaan.

Pengguna kemudian dapat melihat pola dari hari ke hari.

Apabila biasanya seseorang mempunyai pola tertentu kemudian terjadi perubahan selama beberapa hari, aplikasi dapat menampilkan perubahan tersebut.

Keunggulannya berada pada pencatatan jangka panjang. Banyak orang dapat mengingat kondisi buang air hari ini, tetapi sulit menjawab dengan tepat ketika dokter bertanya mengenai pola selama empat minggu terakhir.

Catatan otomatis memberi data yang lebih teratur mengenai frekuensi dan bentuk feses.

Namun, perubahan bentuk feses tidak otomatis menunjukkan seseorang mempunyai penyakit tertentu. Polanya dapat berubah karena makanan, jumlah cairan, perjalanan, obat, stres, maupun berbagai keadaan lainnya.

Warna Urine Digunakan untuk Memperkirakan Hidrasi

Throne One juga menganalisis urine.

Salah satu informasi yang ditampilkan adalah hidrasi berdasarkan karakter urine. Perangkat kemudian menghasilkan skor dan menyimpan perubahannya sehingga pengguna dapat melihat kecenderungan selama beberapa hari atau minggu.

Warna urine memang sering digunakan sebagai salah satu petunjuk sederhana mengenai hidrasi.

Ketika tubuh kekurangan cairan, urine umumnya menjadi lebih pekat. Namun, warna juga dapat berubah akibat obat, suplemen, makanan, dan kondisi kesehatan tertentu.

Karena itu, skor hidrasi dari perangkat tidak seharusnya diperlakukan sebagai diagnosis.

Throne lebih memposisikannya sebagai informasi kebugaran yang membantu pengguna mengenali pola tubuhnya.

Perusahaan mengklaim 58 persen anggotanya memperbaiki kebiasaan hidrasi dalam dua minggu pertama setelah menggunakan perangkat. Angka tersebut merupakan data perusahaan sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai hasil penelitian klinis untuk seluruh populasi.

Aliran Urine Juga Masuk dalam Catatan

Selain warna, Throne mencatat pola aliran urine.

Informasi tersebut kemudian digabungkan dengan kebiasaan penggunaan toilet lainnya. Aplikasi dapat menyimpan frekuensi kunjungan dan memperlihatkan perubahan yang terjadi selama periode tertentu.

Bagi pengguna, keuntungan utamanya berada pada kemampuan membangun baseline atau pola pribadi.

Frekuensi normal setiap orang tidak selalu sama. Seseorang mungkin mempunyai pola buang air tertentu yang sudah berlangsung bertahun tahun.

Perubahan yang tiba tiba kemudian lebih mudah diperhatikan apabila sebelumnya sudah tersedia data yang cukup panjang.

Throne mencoba menggunakan pendekatan tersebut dibandingkan memberikan satu angka yang dianggap normal untuk semua pengguna.

AI Mencari Perubahan dari Kebiasaan Pengguna

AI tidak hanya bertugas mengenali objek di dalam toilet.

Sistem juga mencoba menghubungkan catatan tubuh dengan kebiasaan pengguna. Throne mempunyai AI Gut Health Coach yang dapat bertanya mengenai makanan, kondisi tidur, perjalanan, stres, atau kejadian lain ketika catatan pencernaan terlihat berubah.

Tujuannya adalah mencari pola pribadi.

Misalnya, pengguna dapat memperhatikan apakah perubahan tertentu sering muncul setelah mengonsumsi jenis makanan yang sama atau ketika jadwal sehari hari berubah.

Namun, kemampuan AI pada tahap ini mempunyai batas besar.

Sejumlah dokter yang diwawancarai Business Insider menilai perangkat toilet pintar cukup menarik untuk membuat catatan objektif, tetapi jauh lebih sulit menentukan penyebab sebuah perubahan. Banyak faktor dapat memengaruhi sistem pencernaan sehingga hubungan antara dua kejadian tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab akibat.

Bukan Alat untuk Mendiagnosis Penyakit

Bagian ini menjadi hal terpenting yang perlu dipahami konsumen.

Throne secara resmi menyebut Throne One sebagai produk general wellness. Perusahaan menyatakan perangkat tersebut tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis, mengobati, menyembuhkan, atau mencegah penyakit.

Artinya, seseorang tidak boleh menggunakan skor dari aplikasi untuk memutuskan sendiri bahwa dirinya mempunyai atau tidak mempunyai penyakit.

Perangkat lebih tepat dipandang sebagai alat pemantauan kebiasaan.

Catatan yang dihasilkan dapat membantu pengguna mengetahui adanya perubahan yang kemudian dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Data tersebut bahkan dapat diekspor dalam bentuk laporan 90 hari atau file CSV untuk dibawa ketika berkonsultasi dengan dokter.

Dokter spesialis gastroenterologi yang diwawancarai Business Insider juga melihat potensi catatan elektronik seperti ini ketika menangani pasien dengan persoalan tertentu, tetapi mengingatkan interpretasi medis tetap memerlukan pemeriksaan lebih lengkap.

Throne Ingin Mengembangkan Deteksi Kondisi Lebih Serius

Throne Science mempunyai target pengembangan yang lebih besar daripada pemantauan hidrasi dan bentuk feses.

Perusahaan mengatakan ingin mengembangkan teknologi yang suatu saat dapat memberikan peringatan mengenai kondisi lebih serius, termasuk kemungkinan tanda awal kanker kolorektal serta kanker saluran kemih.

Namun, fungsi tersebut belum merupakan kemampuan diagnostik Throne One yang dijual sekarang.

Untuk membuat klaim diagnosis penyakit, perangkat kesehatan membutuhkan pembuktian klinis dan proses regulasi yang jauh lebih ketat.

Perbedaan antara alat kebugaran dan perangkat medis penting karena konsumen dapat menganggap teknologi AI mampu mengetahui penyakit hanya dari satu kunjungan ke toilet.

Pada kenyataannya, pengenalan perubahan visual merupakan satu tahap. Menentukan penyakit yang menjadi penyebabnya merupakan persoalan medis yang jauh lebih kompleks.

Kohler Dekoda Ikut Membaca Feses dan Urine

Throne bukan satu satunya perusahaan yang mencoba membawa pemantauan kesehatan ke toilet.

Kohler Health mempunyai Dekoda, sebuah perangkat yang juga dipasang di kloset. Sensor tersebut menganalisis aktivitas di dalam toilet dan mengirimkan hasilnya ke aplikasi Kohler Health.

Dekoda dirancang untuk memperhatikan pola pencernaan, hidrasi, dan tanda keberadaan darah di dalam toilet.

Kohler menggunakan sensor serta algoritma untuk mengubah informasi tersebut menjadi catatan yang dapat dipantau pengguna.

Perangkat semacam ini menunjukkan bahwa toilet pintar tidak lagi hanya berbicara mengenai dudukan hangat, bidet otomatis, penghilang bau, atau tutup yang dapat membuka sendiri.

Pemantauan tubuh mulai menjadi kategori tersendiri.

TOTO Sudah Membuat Stool Scan Terintegrasi

Pendekatan yang berbeda datang dari TOTO.

Produsen toilet asal Jepang itu memasang Stool Scan langsung pada model NEOREST tertentu yang dijual di Jepang sejak 2025.

Sensor optik menganalisis feses ketika pengguna selesai buang air. Sistem melihat bentuk, warna, dan jumlah, kemudian informasi tersebut dikirim ke aplikasi TOTO Wellness.

Berbeda dengan Throne yang berupa aksesori tambahan, teknologi TOTO terintegrasi dengan toilet.

Pengguna tidak perlu memasang perangkat terpisah pada bibir kloset.

TOTO juga menggunakan Bristol Stool Form Scale sebagai salah satu referensi dalam klasifikasi.

Aplikasi kemudian memberikan informasi mengenai kebiasaan dan saran gaya hidup berdasarkan catatan yang diperoleh.

Teknologi tersebut untuk sekarang masih lebih banyak tersedia di Jepang dan belum menjadi fitur standar toilet rumah di berbagai negara.

Withings U Scan Lebih Fokus pada Urine

Bila Throne dan TOTO banyak memperhatikan feses, Withings memilih fokus lebih kuat pada urine.

U Scan merupakan perangkat berbentuk kecil yang ditempatkan di dalam kloset. Ketika mendeteksi urine, sensor termal mengaktifkan proses pengambilan sampel. Urine kemudian bergerak melalui saluran mikrofluida menuju bagian pengujian dan dianalisis dengan modul optik.

Withings menyediakan beberapa jenis cartridge.

U Scan Nutrio dapat memantau indikator seperti hidrasi, vitamin C, dan keton. U Scan Calci menambahkan pemantauan kalsium serta keasaman biologis yang berkaitan dengan pengelolaan risiko batu ginjal.

Hasil pengukuran dikirim melalui Wi Fi dan dapat dilihat melalui aplikasi.

Perangkat mempunyai baterai yang diklaim bertahan sampai tiga bulan sebelum membutuhkan pengisian kembali.

Berbeda dari sistem berbasis kamera saja, U Scan menggunakan cartridge dengan pod pengujian yang perlu diganti setelah sejumlah penggunaan.

Kamar Mandi Menjadi Tempat Menarik untuk Sensor Kesehatan

Selama beberapa tahun terakhir, perangkat wearable mengambil data dari pergelangan tangan atau jari.

Jam pintar dapat mengukur detak jantung, aktivitas fisik, temperatur kulit, tidur, serta berbagai indikator lain.

Tetapi wearable mempunyai keterbatasan karena tidak dapat melihat apa yang dikeluarkan tubuh.

Feses dan urine membawa informasi yang berbeda.

Toilet menjadi tempat menarik karena pengguna tidak perlu membangun kebiasaan baru untuk menghasilkan sampel. Mereka memang akan pergi ke kamar mandi setiap hari.

Perusahaan teknologi kemudian berusaha menghilangkan pekerjaan manual dalam proses pencatatan.

Sensor bekerja di latar belakang, data masuk ke aplikasi, lalu pengguna melihat pola setelah beberapa hari.

“Toilet pintar menjadi menarik ketika teknologinya nyaris tidak terasa. Pengguna tidak harus memakai perangkat tambahan di tubuh atau mengisi catatan setiap hari karena pengumpulan informasi terjadi ketika aktivitas normal berlangsung.”

Privasi Menjadi Persoalan yang Tidak Bisa Diabaikan

Memasang kamera di toilet tentu langsung menimbulkan pertanyaan mengenai privasi.

Throne menyatakan kamera pada perangkatnya selalu mengarah ke bawah sehingga hanya melihat bagian dalam kloset.

Perusahaan juga mengatakan data dienkripsi dan tidak dijual atau dibagikan tanpa izin pengguna. Pemilik akun dapat meminta penghapusan seluruh datanya.

Satu perangkat Throne dapat digunakan sampai enam anggota keluarga.

Identifikasi pengguna dilakukan dengan mendeteksi ponsel yang berada di dekat perangkat atau melalui tombol personal. Setiap pengguna mempunyai akun sendiri sehingga catatan tidak otomatis terlihat oleh anggota rumah lainnya.

Meski demikian, data mengenai feses dan urine termasuk informasi yang sangat pribadi.

Konsumen perlu membaca kebijakan penyimpanan data, metode enkripsi, akses pihak ketiga, serta prosedur penghapusan sebelum menggunakan teknologi semacam ini.

Kemudahan mendapatkan grafik kesehatan perlu diimbangi kesadaran mengenai jenis informasi yang dikirim ke aplikasi dan server perusahaan.

Pemantauan Berlebihan Juga Bisa Menjadi Masalah

Mempunyai lebih banyak data tidak selalu membuat seseorang lebih sehat.

Seorang dokter yang diwawancarai Business Insider mengingatkan orang tanpa gangguan pencernaan tertentu dapat menjadi terlalu fokus terhadap variasi normal apabila melihat seluruh aktivitas toilet dalam bentuk angka setiap hari.

Feses manusia memang berubah.

Makanan hari sebelumnya, perjalanan, perubahan jadwal tidur, jumlah cairan, obat, dan aktivitas dapat membuat hasil berbeda tanpa menunjukkan penyakit serius.

Karena itu, pengguna perlu melihat data sebagai tren, bukan alasan untuk panik karena satu hasil terlihat berbeda.

Perangkat juga tidak dapat menggantikan pemeriksaan dokter ketika terdapat tanda seperti darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab, nyeri yang menetap, perubahan kebiasaan buang air yang berlangsung lama, atau keluhan lain yang membutuhkan evaluasi medis.

Throne One Bisa Dipakai Hingga Enam Orang

Untuk rumah dengan satu kamar mandi, Throne menyediakan dukungan beberapa profil.

Satu perangkat dapat mengenali sampai enam pengguna. Sistem memanfaatkan keberadaan ponsel di dekat perangkat untuk menentukan siapa yang sedang menggunakan toilet.

Jika tamu menggunakan toilet, sensor dapat tetap tidak memasukkan aktivitas tersebut ke profil anggota keluarga.

Baterainya diklaim mampu bertahan sekitar 30 hari.

Perangkat kemudian perlu diisi ulang seperti gadget lain.

Keuntungan desain tambahan berada pada pemasangan. Sensor dapat dilepas dan dipindahkan tanpa harus mengganti toilet.

Hal tersebut membuat perangkat lebih mudah digunakan oleh penghuni rumah sewa dibandingkan toilet pintar terintegrasi yang memerlukan pembelian kloset baru.

Harga Throne One Mencapai 399 Dolar AS

Throne One saat ini dibanderol 399 dolar AS.

Pengguna juga membutuhkan keanggotaan senilai 5,99 dolar AS per bulan. Tiga bulan pertama diberikan tanpa biaya keanggotaan berdasarkan penawaran yang tercantum di situs perusahaan saat ini.

Throne untuk sekarang hanya dikirim di Amerika Serikat dan membutuhkan alamat penagihan AS.

Perusahaan menyatakan ekspansi internasional akan menyusul, tetapi belum mencantumkan jadwal penjualan resmi di Indonesia.

Perkembangan produknya mendapat tambahan modal pada Juli 2026.

Throne Science memperoleh pendanaan Seri A sebesar 10 juta dolar AS sehingga total dana yang telah dihimpun mendekati 18 juta dolar AS. Dana tersebut akan digunakan antara lain untuk memperbesar tim serta melanjutkan penelitian generasi sensor berikutnya.

Persaingan di kategori yang sama juga mulai terbentuk. Kohler menawarkan Dekoda, Withings menjual U Scan, sedangkan TOTO sudah memasukkan pemindai feses langsung ke toilet premium di Jepang.

Bagi konsumen Indonesia, perangkat semacam Throne One belum tersedia secara resmi saat ini. Teknologinya juga masih lebih tepat digunakan untuk mencatat pola kebugaran dan kebiasaan tubuh daripada menggantikan laboratorium, pemeriksaan dokter, atau diagnosis medis. Setiap kunjungan ke kamar mandi dapat menghasilkan lebih banyak data, tetapi keputusan mengenai kesehatan tetap membutuhkan penilaian yang lebih luas daripada apa yang terlihat di dalam kloset.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *